Rabu, 17 Maret 2010

Lagi Ngapain?

"Lo lagi ngapain? Pasti nonton." Itu salah satu pernyataan (pertanyaan yang dijawab sendiri) dari sahabatku tiap chatting. Haha... Sejarah munculnya pernyataan itu karena saking seringnya dia tanya aku lagi ngapain dan jawabannya 95% lagi nonton, kesimpulannya aku nonton terus. Hehe... Nggak salah sih, karena aku memang hobi nonton :)

Post terakhir juga soal film Eight Below kan? Aku memang hobi nonton, tapi kebanyakan film yang kutonton tuh film Barat or Korea. Film Indonesia nggak gitu suka, paling beberapa FTV & film layar lebar yang 'bermutu' aja. Bukan nggak cinta produk dalam negeri, tapi kenyataannya memang produk perfilman negeri kita masih kalah jauh dari negara-negara lain, terutama Amerika dan Korea. Ini pendapatku pribadi lho, dua negara tadi yang saat ini jadi Leader di dunia perfilman.

Sebelum membandingkan dengan produk negara lain, review sejenak produk dalam negeri ya...
1. Sinetron
Kalau mau jujur, kebanyakan sinetron Indonesia kurang bermutu, dalam arti ceritanya bisa ditebak, kepanjangan, dan yang paling parah adalah : hampir nggak ada pesan moralnya. Yang ditonjolkan adalah penderitaan si pemeran utama yang sikapnya baik kayak malaikat tapi kadang-kadang terlalu polos, bahkan cenderung 'bodoh' dan si pemeran antagonis yang jahatnya nggak ketulungan.
2. Film Layar Lebar
Industri perfilman layar lebar Indonesia sih udah cukup maju dibandingkan sepuluh tahun lalu. Ya, sejak munculnya Petualangan Sherina, disusul Joshua oh Joshua, Ada Apa Dengan Cinta, Eiffel I'm In Love, semakin banyak film layar lebar yang diproduksi. Kategori ini bisa dibilang lebih baik dibandingkan sinetron. Selain jalan cerita yang nggak berbelit-belit, ide cerita juga lebih kreatif, karena kadang-kadang juga diambil dari novel, seperti Laskar Pelangi. Tapi... Tetap saja masih banyak yang perlu dibenahi. Contohnya : jalan cerita yang bias seperti di kebanyakan film horror yang menampilkan adegan vulgar. Memang ada hubungannya ya antara adegan seronok dan menyeramkan sehingga banyak sekali film horror yang berbau vulgar? Atau adegan-adegan itu cuma jadi bumbu untuk menarik minat penonton? Menurutku, kalau mau bikin film horror, yang seram sekalian, nggak perlu diberi ekstra penyedap yang nggak penting. Kalau memang mau bikin film vulgar, ya sekalian saja. Intinya, jangan setengah-setengah.
3. FTV
FTV sekarang menurutku cukup baik. Walaupun jalan ceritanya juga nggak terlalu sulit ditebak, tapi penyampaiannya yang ringan dan nggak berbelit-belit serta nggak bercampur antar genre film (horor dan vulgar, misalnya) justru menjadi kelebihan FTV.

Nah, bagaimana dengan film Amerika atau dikenal dengan Hollywood? Jangan ditanya deh, itu kan pusat perfilman dunia, jadi agak terlalu jauh kalo mau membandingkan karya dalam negeri dengan film-film berkaliber dunia. Bukannya mengecilkan film Indonesia lho, tapi realistis. Menurutku, film-film Indonesia yang bisa bersaing di dunia perfilman Hollywood adalah film sejenis Laskar Pelangi, Denias Senandung Di Atas Awan, atau film lainnya yang memiliki pesan yang bagus di dalam ceritanya.

Lalu, perbandingan dengan Korea. Kalo soal drama Korea, sorry to say, jauh sekali mutunya jika dibandingkan dengan sinetron Indonesia. Lihat saja berapa banyak drama Korea yang diadaptasi secara ilegal menjadi sinetron, alasannya karena tentu saja ceritanya menarik. Bahkan ada film Korea yang diadaptasi secara resmi di Hollywood karena ceritanya yang unik.

Oya, ada sedikit tambahan. Bollywood. Dulu, film India dikenal dengan nyanyian dan tarian, dimana ada pohon, pasti langsung menyanyi dan menari. Tapi, baru-baru ini India mengubah image film-nya dengan film terbaru berjudul My Name Is Khan. Dengan bobot cerita yang baik, ditambah promosi besar-besaran, keberanian mengambil adegan film di White House, menciptakan sejarah baru dalam dunia perfilman India.

Lalu, kapan perfilman Indonesia maju? Bukan hanya film layar lebar, tapi layar kaca juga perlu mengalami pembaharuan. Kalo anda peduli terhadap perfilman Indonesia, yuk kita sama-sama ambil bagian dalam merubah sejarah perfilman Indonesia. Bagaimana caranya? Ikut terlibat. Tidak berarti beramai-ramai mengajukan diri menjadi artis lho... Mulai dengan mencari ide-ide segar untuk dibuat film, temukan ciri khas perfilman Indonesia, dll. Tidak sulit kan?

Go Perfilman Indonesia!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar