I just finished watch one of my favourite movie. Eight Below. Mungkin film-nya nggak terkenal-terkenal amat, tapi berkesan banget buatku. Pesan moralnya, terutama. Aku ceritain sedikit ya... (agak banyak kayaknya, hehe...)
Seorang anggota tim penelitian di Antartica bernama Jerry Shepard. Salah satu tugasnya adalah mengantar seorang ilmuwan, Dr. Davis McClaren yang datang ke Antartica untuk mencari batu dari planet Merkurius yang konon jatuh di sekitar situ, dan karena waktu Dr. McClaren datang pas salju sudah mulai menipis, jadi perjalanan nggak bisa dengan mobil salju, cuma bisa dengan kereta salju yang ditarik anjing-anjing salju. Singkat cerita, perjalanan mencari batu Merkurius itu berhasil dan Dr. McClaren bisa kembali dengan selamat berkat Jerry dan kedelapan anjingnya : Maya (the leader), Old Jack, Max, Dewey, Truman, Shadow, Buck, dan Shorty. Tapi, karena Jerry dan Dr. McClaren harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan terhadap kondisi tubuh mereka, terpaksa seluruh anggota tim berangkat ke pos yang lebih aman, dengan meninggalkan kedelapan anjing-anjing salju itu, dengan rencana untuk kembali menjemput anjing-anjing itu setelah pesawat mengantar anggota tim yang ada. Tapi... Tiba-tiba cuaca memburuk dan badai makin besar, jadi nggak memungkinkan untuk menjemput anjing-anjing itu, bahkan semua penerbangan di seputaran Antartica dihentikan selama musim dingin.
Akhirnya, Jerry pun kembali ke Amerika. Dengan segala cara, dia berusaha mencari jalan untuk bisa menjemput kedelapan hewan kesayangannya itu. Namun, semua sepertinya mentok.
Nah, disinilah cerita sesungguhnya dimulai. Mengenai upaya survival dari anjing-anjing salju itu. Beberapa hari sejak mereka ditinggalkan terikat di depan markas, mulailah mereka berusaha melepaskan diri. Kecuali Old Jack, yang sama sekali nggak berusaha melepaskan diri, bahkan menolak waktu diajak pergi oleh anjing yang lain. Lucunya, anjing-anjing ini seperti bisa pasang mimik wajah, jadi yang menonton bisa mengerti apa maksud gerakan menyenggol-nyenggol, mengelus-ngelus anjing lain. Seperti Old Jack, yang dielus-elus oleh Maya untuk diajak pergi, tapi tetap menolak, dan wajahnya seakan berkata : "Kalian pergi saja, aku nggak mau ikut. Aku sudah tua, aku nggak mau merepotkan kalian. Biarkan aku mati disini saja."
Setelah pergi meninggalkan markas, mereka berkeliaran di salju untuk mencari makan. Mulai dari burung, membongkar markas lain, mayat paus beku. Dan selama petualangan bertahan hidup itu, terlihat betapa binatang juga punya perasaan seperti manusia. Malah, di film ini terlihat, binatang punya perasaan sensitif. Waktu harus meninggalkan Old Jack, menemani Truman yang terluka sampai mati, berbagi makanan dengan Max yang dihukum oleh Maya karena gonggongannya membubarkan kawanan burung yang sedang bercengkrama, Max mengalihkan perhatian singa laut supaya yang lain bisa makan dari mayat paus beku yang dikuasai singa laut, menyerang singa laut karena telah melukai Maya, dan mencarikan makanan untuk Maya yang sedang terluka. Hingga akhirnya, setelah hampir 6 bulan mereka berupaya bertahan hidup, Jerry pun berhasil kembali ke markas dan menemukan ke-5 anjing yang masih sehat + seekor Maya yang terluka.
Waktu pertama kali aku nonton film ini (hari ini sudah kesekian kalinya nonton), aku sampai nangis. Ya iya lah, bahkan binatang punya perikebinatangan, terlihat dari kepedulian dengan temannya yang sedang terluka, mereka berbaring di sekitar teman mereka yang terluka. Terkadang terdengar suara tangisan anjing-anjing itu, terutama waktu salah satu di mereka mati. Binatang, makhluk ciptaan Tuhan yang tidak memiliki akal budi seperti manusia, malah punya toleransi tinggi terhadap sesamanya, seperti berbagi makanan dengan teman yang tidak kebagian makanan. Memang sih hanya sekedar film, tapi film ini inspired by true story lho.
Di lain pihak, aku terheran-heran dengan manusia, yang punya akal budi, hingga disebut ciptaan Tuhan yang paling sempurna, terkadang sikapnya kalah setia kawan, kalah toleransi, kalah perikemanusiaan (tentunya bukan perkebinatangan kayak anjing kan?), kalah pengertian dibanding yang ditunjukkan anjing-anjing salju di film Eight Below ini. Where did the real humanity go when the reality shows that people kill each other, fight each other, bomb each other, judge each other, hate each other, even eat each other (this is happening, human is eating another human, such as baby soup)?
Beberapa hari ini, ada teman-temanku yang curhat mengenai masalah yang mereka hadapi yang berkaitan dengan orang lain. Kesimpulan yang aku ambil : ternyata, manusia sekarang suka membuat masalah dengan sesamanya. Hal-hal kecil dibesarkan, hal yang besar diperbesar hingga menjadi masalah. Why don't we all look at the mirror? Nobody's perfect, that's for sure, tapi jangan hanya melihat kekurangan atau kesalahan orang lain untuk dipermasalahkan. Lihat ke cermin, bayangan di cermin itu pun tidak sempurna. Dalam diri kita masing-masing, banyak hal yang masih perlu diperbaiki. Boleh saja melihat kesalahan orang lain, hanya dalam konteks kita belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Period.
Jadi, mari hidup damai satu dengan lain, saling membangun antar sesama manusia, dan saling mengasihi karena kita semua makhluk ciptaan Sang Empunya Semesta. Jangan mau kalah dengan binatang, karena kita diciptakan jauh lebih sempurna dibandingkan binatang.
GBU all...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar